Cinderella Story of comic

Cinderella


Once upon a time, there was a young girl named Cinderella. She lived with her step mother and two step sisters.
The step mother and sisters were conceited and bad tempered. They treated Cinderella very badly. Her step mother made Cinderella do the hardest works in the house.

One day in the castle holds a party, and Cinderella went to follow it but her step sister try to obscure it.
Because Cinderella was good girl, a fairy help it. the fairy godmother changed a pumpkin into a fine coach and mice into a coachman and two footmen.Fairy tapped Cinderella’s raged dress with her wand, and it became a beautiful party gown. Then she gave her a pair of pretty glass slippers, but Cinderella must leave before midnight. Then away she drove in her beautiful coach.

Cinderella was having a wonderfully good time. She danced again and again with the princes. Suddenly the clock began to strike twelve, she ran toward the door as quickly as she could. In her hurry, one of her glass slipper was left behind.
A few days later, the princes proclaimed that he would marry the girl whose feet fitted the glass slipper. Her step sisters tried on the slipper but it was too small for them, no matter how hard they squeezed their toes into it. In the end, the king’s page let Cinderella try on the slipper. She stuck out her foot and the page slipped the slipper on. It fitted perfectly.
Finally, she was driven to the palace. The princes was overjoyed to see her again. They were married and live happily ever after.

Contoh macam puisi

BERI DAKU SUMBA

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api di atas sana
Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka
Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga.

Tanah rumput, topi rumput, danjerami bekas rumput
Kleneng genta, ringkik kuda, dan teriakan gembala
Berdirilah di pesisir, matahari kan terbit dari laut
Dan angin zat asam mulai dikipas dari sana.

Beri dak sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari
Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda
Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari
Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba.

Rinduku pada Sumba adalah rindu seibu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Sementara langit bagai kain tetoron, gelap, coklat tua
Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari membusur api, cuaca kering dan ternah melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh

Sajak-sajak Ladang Jagung, 1970
Taufiq Ismail
























SEMBAHYANG RUMPUTAN
 
walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin
 
topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi
 
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan
 
walau kautebang aku
akan tumbuh sebagai rumput baru
walau kaubakar daun-daunku
akan bersemi melebihi dulu
 

aku rumputan
kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan
 
aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
:sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi allah tuhan sekalian alam
 
pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan
pada tanah akar kupertahankan
agar tak kehilangan asal keberadaan
di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema
menggetarkan jagat raya
: la ilaaha illalah
muhammadar rasululah
 
aku rumputan
kekasih tuhan
seluruh gerakku
adalah sembahyang
 
1992-Ahmadun Yosi Herfanda


NEGRI KADAL

negri kami negri kadal
negri yang tidak pernah sepi dari juluran lidah
menjelma dasi, panji-panji hingga janji-janji
yang selalu terpelanting bacinnya ludah.
sambil melata, kami mengendap,
menikam dan bersenggama
sesekali menelikung lawan juga kawa.
negri kami negri kadal
negri yang bersemak rempah
berbelukar bahan tambang, berrerimbun hutan
namun selalu lapar
dengan pertikaian dan asap tebal
dari berbagai kayu bakar
; agama, harta dan kekuasaan
kami selesaikan masalah
hanya lewat desis dan kata-kata
sedang tindakan tersembunyi dengan sempurna
di ujung ekor yang tak berdaya
menjelma bom, meledak sembarangan.
curiga mulus beranak pinak di sela sisik
malih rupa ketakutan
yang tak pernah terungkap di pengadilan
di negri kadal.
Solo, 19 September 2000
Sosiawan Leak

BIKIN SENDIRI SAJA

Bikin sendiri saja udara mana kau suka
Bikin sendiri saja bumi mana kau suka
Bikin sendiri saja rasa mana kau suka
Bikin sendiri saja logika mana kau suka

Langit telah kehabisan hawa
Tanah telah kehabisan pijak
Jiwa telah kehabisan peka
Benak telah kehabisan jawab

Hidup jadi kerempeng
Tujuan jadi melenceng
Pengembaraan jadi dongeng
Meditasi jadi cengeng

Jika tak bikin sendiri segala idaman
Jika tak bikin sendiri segala harapan
Jika tak bikin sendiri segala kerjaan
Jika tak bikin sendiri segala makanan

Mimpi bakal kehabisan warna
Nasib bakal kehabisan garis
Tenaga bakal kehabisan makna
Palawija bakal kehabisan akar

Hari jadi duri
Usia jadi sia
Waktu jadi hantu
Kesempatan jadi setan

Bikin sendiri saja
Kelanjutan segala bayang

1982
Yudhistira Ardinugraha

















PANTUN KORUPTOR

(Dibacakan WS Rendra di tengah Iwan Fals dan kawan-kawan menyanyikan lagu HIO dalam konser Merdeka yang berlangsung di Leuwinanggung 16 Agustus 2008)

Kalau ada sumur di ladang
Jangan diintip gadis yang mandi
Koruptor akalnya panjang
Jaksa dan hakim diajak kompromi

Berburu ke padang datar
Mendapat janda belang di kaki
Koruptor sakit diijinkan pesiar
Uang rakyat dibawa lari

Berakit rakit ke hulu
Berenangnya kapan kapan
Maling kecil sakit melulu
Maling besar dimuliakan

Ur… Ur… Ur… Ur… Bada Ur…
Selendang sutra jingga
Aturan negara ngalor ngidul
Lantaran wakil rakyat korupsi juga

Hio… Hio… Hio… Hio…

Kura kura dalam perahu
Buaya darat didalam sedan
Wakil rakyat jangan ditiru
Korupsinya edan edanan

Si tukang riba disebut lintah darat
Si hidung belang disebut buaya darat
Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
Mereka yang berhutang yang bayar lha kok rakyat?

Binatang bego itu kura kura
Binatang lamban juga kura kura
BBM naik rakyat sengsara
Uang bea cukai ditilep juga

Aduh aduh cantiknya si janda kembang
Sedang menyanyi si Jali Jali
Hujan emas di rantau orang
Hujan babu di negeri sendiri

Hio… Hio… Hio…
Ale… Ale… Ale…
Bakso… Bakso… Bakso…
Onde… Onde… Onde…

Mikul duwur mendem jero
Itu apa artinye?
Artinye…
Kalau ente jadi presiden
Berdosa boleh aje…..

Contoh SEBAB-SEBAB KETIDAKBAKUAN KALIMAT

1. PELESAPAN IMBUHAN
(prefiks dan sufiks)

*Presiden resmikan 8 pabrik gula.
*Polisi terus usut kematian Munir.
*Polisi terus mengusut kematian Munir.
*Presiden meresmikan delapan pabrik gula.
*Engkau harus hati-hati jika bertemu dengan dia.
*Saya ingin langganan majalah itu.
*Dua orang pemulung hukum dua tahun.

*Engkau harus berhati-hati jika bertemu dengan dia.
*Saya ingin berlangganan majalah itu.
*Dua orang pemulung dihukum dua tahun.

*Kita menanti hubungan dengan Washington.
*Yang paling saya suka ialah berlari.

*Kita menantikan hubungan dengan Washington.
*Yang paling saya sukai ialah berlari.
*Engkau harus hati-hati jika bertemu dengan dia.
*Saya ingin langganan majalah itu.
*Dua orang pemulung hukum dua tahun.

*Engkau harus berhati-hati jika bertemu dengan dia.
*Saya ingin berlangganan majalah itu.
*Dua orang pemulung dihukum dua tahun.

*Kita menanti hubungan dengan Washington.
*Yang paling saya suka ialah berlari.

*Kita menantikan hubungan dengan Washington.
*Yang paling saya sukai ialah berlari.

2. PEMBOROSAN PENGGUNAAN KATA

*Kemarin dia bertanding di Beijing di mana ia kalah angka.
*Tempat di mana ditemukannya benda itu telah dicatat.

*Kemarin, dia bertanding di Beijing dan kalah.
*Tempat ditemukannya benda itu telah dicatat.
*Tujuan daripada pertemuan itu adalah pembuatan kesepakatan.
*Semua peserta daripada pertemuan itu sudah hadir.

*Tujuan pertemuan itu adalah pembuatan kesepakatan.
*Semua peserta pertemuan itu sudah hadir.

*Di dalam rapat kemarin memutuskan besarnya sumbangan pendidikan.
*Dalam masyarakat Jawa pun mengenal tradisi semacam itu.

*Rapat kemarin memutuskan besarnya sumbangan pendidikan.
*Masyarakat Jawa pun mengenal tradisi semacam itu.
*Kepada Ibu Bupati dimohon berkenan menyerahkan hadiah.
*Kepada hadirin dimohon berdiri.

*Ibu Bupati dimohon berkenan menyerahkan hadiah.
*Hadirin dimohon berdiri.

*Dari hasil otopsi menunjukkan bahwa korban meninggal secara tidak wajar.
*Hasil otopsi menunjukkan bahwa korban meninggal secara tidak wajar.

*Maka dengan ini kami haturkan data seorang ibu dari Kelurahan Panjer.
*Maka kami mohon dengan hormat sudilah kiranya Saudara memeriksa kesehatannya.
*Dengan ini kami sampaikan data seorang ibu dari Kelurahan Panjer.
*Dengan hormat kami mohon Saudara sudi memeriksa kesehatannya.
3. KETIDAKTEPATAN PEMILIHAN KATA
Penggunaan Kata Bahasa Jawa
Penggunaan Kata yang Termasuk Ragam Tidak Baku
Kesalahan Pembentukan Kata
Ketidaktepatan Penggunaan Kata ‘di mana’
Ketidaktepatan Penggunaan Imbuhan meN-i
Ketidaktepatan Penggunaan Bentuk -nya
Ketidaktepatan Penggunaan Kata-kata Tertentu
Di muara sungai itulah terdapat sebuah keraton lelembut
Ia sedang membikin rak buku.
Buku itu diberi ke saya.
Kantor di mana ia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
Presiden menghadiahi bintang jasa kepadanya
Atas bantuannya kami ucapkan terima kasih.
Untuk menyingkat waktu, acara segera dimulai.
Di muara sungai itulah terdapat sebuah keraton roh halus.
Ia sedang membuat rak buku.
Buku itu diberikan kepada saya.
Kantor tempat ia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
Presiden menghadiahkan bintang jasa kepadanya
Atas bantuan Saudara, kami ucapkan terima kasih.
Untuk mengefektifkan waktu, acara segera dimulai.

4. PENGGUNAAN KONJUNSI GANDA
karena, maka
Meskipun, tetapi
Walaupun, namun
Setelah, maka
Meskipun, namun
Karena nilainya kurang dari batas minimal, maka ia tak dapat diterima sebagai siswa.
Karena sakit, maka ia tidak masuk sekolah.

Karena nilainya kurang dari batas minimal, ia tidak dapat diterima sebagai siswa.
Karena sakit, ia tidak masuk sekolah.

Meskipun kita tidak berperang, tetapi kita harus waspada.
Meskipun turun hujan, tetapi ia pergi juga ke sekolah.

Meskipun tidak berperang, kita harus waspada.
Meskipun turun hujan, ia pergi juga ke sekolah.
Walaupun keringat membasahi seluruh badan, namun ia tetap bekerja.
Walaupun mereka maju bersama-sama, namun mereka belum dapat mengalahkannya.

Walaupun keringat membasahi seluruh badan, ia tetap bekerja.
Walaupun maju bersama-sama, mereka belum dapat mengalahkannya.

Setelah berhari-hari berjalan maka sampailah beliau di pinggiran hutan Merapi.
Setelah segala keperluan Sultan Agung selesai maka kembalilah beliau ke Mataram.

Setelah berhari-hari berjalan, sampailah beliau di pinggiran hutan Merapi.
Setelah segala keperluan Sultan Agung selesai, kembalilah beliau ke Mataram.
Meskipun bentuknya lain-lain, namun hakikatnya karikatur dapat disebut humor.
Meskipun negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945, namun masih banyak warganya yang belum berpendidikan.

Meskipun bentuknya lain-lain, hakikatnya karikatur dapat disebut humor.
Negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945 tetapi masih banyak warganya yang belum berpendidikan.

5. KERANCUAN BENTUK
a. Rancu dalam Hal Bentuk Kata
Hal itu belum dipelajarkan kepada kami.
Hotel itu dipertinggikan.
Hal itu belum diajarkan kepada kami.
Hotel itu dipertinggi.

b. Rancu dalam Hal Kelompok Kata
Mereka saling pandang-memandang.
Dia dilarang tidak boleh merokok.
Mereka saling memandang.
Dia dilarang merokok.

6. KESALAHAN EJAAN
PENGGUNAAN TANDA KOMA YANG SALAH
Ayah mengatakan, bahwa adik sakit.
Saya tidak datang, jika turun hujan.
b. PELESAPAN TANDA KOMA
Jadi definisi demokrasi adalah sebagai berikut.
Di samping itu kita tidak beruntung.
c. KESALAHAN PENULISAN SAPAAN
Siapa nama saudara?
Silakan makan, dik!
- Ayah mengatakan bahwa adik sakit.
Saya tidak datang jika turun hujan.

Jadi, definisi demokrasi adalah sebagai berikut.
Di samping itu, kita tidak beruntung.

Siapa nama Saudara?
Silakan makan, Dik!

7. PELESAPAN SALAH SATU FUNGSI KALIMAT
Pelesapan subjek pada induk kalimat.
Pelesapan subjek anak kalimat.
Pelesapan predikat.
Ketika diangkat menjadi ketua organisasi, tidak memperlihatkan kelebihannya.
Ketika diangkat menjadi ketua organisasi, dia tidak memperlihatkan kelebihannya.
Jika Anda tidak piket, akan dikenakan denda.
Jika tidak piket, Anda akan dikenakan denda.

Sebelum dibicarakan dengan pimpinan, bagian personalia sudah memasalahkan masalah itu.
Sebelum pimpinan membicarakan masalah itu, bagian personalia sudah memasalahkannya.

Ia sedang ke luar kota.
Ia sedang pergi ke luar kota.

8. KESALAHAN STRUKTUR KALIMAT
Surat anda saya sudah baca.
Dia punya HP sudah dijual.
Kalimat itu pembaca tidak tahu artinya.

Surat Anda sudah saya baca.
HP-nya sudah dijual.
Pembaca tidak dapat mengetahui arti kalimat itu.

Ada 8 macam penyebab ketidakbakuan kalimat dalam Bahasa Indonesia

*Pelesapan imbuhan.
*Pemborosan penggunaan kata.
*Ketidaktepatan pemilihan kata.
*Penggunaan konjungsi ganda.
*Kerancuan bentuk.
*Kesalahan ejaan.
*Pelesapan salah satu fungsi kalimat.
*Kesalahan struktur kalimat.

Macam Pengertian dan Jenis-jenis Puisi di Indonesia

Jenis-jenis Puisi di Indonesia
Puisi sebagai kreasi manusia selalu berkembang dari masa ke masa. Perkembangan puisi merupakan refleksi pemikiran penyair dalam menyikapi zaman, sekaligus menyikapi perpuisian itu sendiri. Akan tetapi, walaupun puisi berubah menjadi seribu macam bentuk, ada yang tetap melekat dalam puisi sebagai hakekatnya, yaitu menyampaikan sesuatu secara tidak langsung. Hal itu merupakan pemikiran Riffaterre (lewat Sarjono, 2001:124) bahwa “a poem says one thing and means another.”
Di Indonesia, puisi telah mulai ditulis oleh Hamzah Fansuri dalam bentuk syair Melayu dan ditulis dengan huruf Arab di akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 (Ismail, 2001:5). Menurut Teeuw, (1994:58), puisi yang ditulis kala itu sudah menunjukkan individualitas seorang Fansuri, yaitu (1) puisi tidak anonim dan (2) melibatkan (nama) diri dalam teks. Selanjutnya, puisi berkembang pesat seiring berkembangnya idealisme tentang individualisme dan kemerdekaan.
Ahli-ahli sastra banyak yang membedakan dan membagi perpuisian Indonesia menjadi puisi lama dan puisi baru. Namun, apa yang disebut ‘puisi lama’ itu pun masih tetap diapresiasi dan diproduksi sampai saat ini, misalnya pantun, tetap dilestarikan dan diproduksi dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Di samping itu, puisi baru juga tidak bisa melepaskan puisi lama karena ia bisa jadi ilham yang penuh keindahan untuk digarap. Sebagai contoh, puisi mantra Sutardji.
Berikut adalah jenis-jenis puisi yang dirangkum oleh Waluyo (1995:135).
1.Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif
Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang akan disampaikan, maka puisi dapat diklasifisikasikan menjadi berikut ini.
a.Puisi naratif. Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair, baik secara sederhana, sugestif, atau kompleks. Puisi naratif diklasifikasikan lagi menjadi balada, romansa, epik, dan syair. Balada adalah jenis puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Salah satu contohnya adalah Balada Terbunuhnya Atmo Karpo karya W.S. Rendra.
Balada Terbunuhnya Atmo Karpo

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya
di pucuk-pucuk para
mengepit kuat-kuat lutut penungang perampok
yang diburu
surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang

Segenap warga desa mengepung hutan tu
dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya
penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka

- Nyawamu baran pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa

Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang

- Joko Pandan! Di mana ia?
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia!
menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala

- Joko Pandan! Di mana ia?
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba

Pada langkah pertama keduanya sama baja
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya.

(Waluyo, 2003:88)

Romansa adalah jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantik dan berisi ungkapan cinta kasih maupun kisah percintaan. Menurut Waluyo (1995:136), romansa dapat juga berarti cinta tanah kelahiran.
b.Puisi lirik. Dalam puisi lirik, penyair tidak bercerita. Puisi lirik merupakan sarana penyair untuk mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya (Waluyo, 1995:136). Elegi, ode, dan serenada bisa dikategorikan ke dalam jenis ini. Elegi banyak mengungkapkan perasaan duka atau kesedihan, serenada merupakan sajak percintaan yang dapat dinyanyikan, sedangkan ode adalah puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaaan (Waluyo, 1995:136).
c.Puisi deskriptif. Dalam puisi deskriptif, penyair memberi kesan terhadap suatu peristiwa atau fenomena yang dipandang menarik perhatian penyair (Waluyo, 1995:137). Jenis puisi yang dapat dikategorikan ke dalam jenis ini adalah satire, kritik sosial, dan puisi-puisi impresionistik.

2.Puisi Kamar dan Puisi Auditorium
Istilah puisi kamar dan puisi auditorium dipopulerkan oleh Leon Agusta dalam buku kumpulan puisinya, Hukla. Puisi kamar ialah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja. Puisi kamar lebih berisi perenungan sehingga pemaknaannya bisa dicapai lewat pemikiran yang tenang. Kebanyakan puisi Sapardi Djoko Damono bisa dikategorikan dalam jenis puisi kamar. Salah satu contoh untuk disebutkan adalah puisi berjudul Aku Ingin.
Aku Ingin
Aku ngin mencintaimu dengan sederhana :
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ngin mencintaimu dengan sederhana :
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

(Waluyo, 2003:117)

Puisi Auditorium adalah puisi yang cocok dibacakan di auditorium, mimbar yang jumlah pendengarnya bisa dikatakan banyak. Puisi auditorium disebut juga puisi mimbar, puisi yang keindahannya semakin bergelora ketika dibaca dengan suara lantang. Untuk disebutkan sebagai contoh, Sajak Lisong karya W.S. Rendra bisa dikategorikan dalam jenis puisi mimbar.

3.Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisikal
Puisi fisikal berisi pelukisan kenyataan yang sebenarnya, apa yang dilihat, didengar, atau dirasakan oleh penyair. Puisi-puisi naratif, balada, puisi impresionistik, dan puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal (Waluyo, 1995:138).
Puisi platonik adalah puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yan bersifat spiritual atau kejiwaan. Puisi tentang ide, cita-cita, dan cinta luhur dapat dinyatakan sebagai puisi platonik.
Puisi metafisikal adalah puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan atau ketuhanan. Puisi religius di satu sisi dapat dinyatakan sebagai puisi platonik (menggambarkan ide atau gagasan penyair), dan di sisi lain dapat juga disebut sebagai puisi metafisik (mengajak pembaca merenungkan kehidupan atau ketuhanan). Sebagai contoh, puisi-puisi yang ditulis oleh A. Mustofa Bisri selain sebagai puisi platonik, juga merupakan puisi metafisik.
Ittihad

lalu atas izinmu
kita pun bertemu

dan senyummu
menghentikan jarak dan waktu

lalu atas izinku
kita pun menyatu

(Negeri Daging, hal.33)

4.Puisi Subjektif dan Objektif
Puisi subjektif atau bisa disebut puisi personal adalah puisi yang mengungkapkan gagasan, pemikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi ekspresionis semacam puisi lirik dapat dikategorikan sebagai puisi subjektif.
Puisi objektif atau puisi impersonal merupakan puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri. Jenis-jenis puisi yang bisa digolongkan sebagai puisi objektif adalah puisi naratif dan deskritptif, meskipun ada di antaranya yang subjektif (Waluyo, 1995:138)

5.Puisi Konkret
Puisi konkret (poems for the eye) diartikan sebagai puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahannya dari sudut penglihatan (Kennedy lewat Waluyo, 1995:138). Jenis puisi ini mulai dipopulerkan sejak tahun 1970-an oleh Sutardji Calzoum Bachri. Pada tahun 1975, Jeihan Sukmantoro juga menulis puisi konkret, walau masih dalam geliat puisi mbeling.
HAL, 2

ooooooooo
ooooooooo
ooooooooo
ooooooooo
ooooooooooooooooooooooooooo
ooooooooooooooooooooooooooo
ooooooooooooooooooooooooooo
ooooooooooooooooooooooooooo
ooooooooo
ooooooooo
ooooooooo
ooooooooo
S.O.S
O 2
!

(Mata Mbeling Jeihan, hal. 49)
6.Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis
Puisi diafan atau puisi polos adalah puisi yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata konkret, dan bahasa figuratif, sehingga bahasa dalam puisi mirip dengan bahasa sehari-hari (Waluyo, 1995:140). Biasanya, para pemula dalam hal menulis puisi cenderung menghasilkan karya dalam jenis ini. Mereka belum mampu mempermainkan kiasan, majas, dan sebagainya, sehingga puisi menjadi kering dan lebih mirip catatan pada buku harian.
Puisi gelap menurut Waluyo (1995:140), adalah puisi yang terbentuk dari dominasi majas atau kiasan sehingga menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sementara itu, Sutardji Calzoum Bachri mengidentifikasikan puisi-puisi yang ditulis era 80-90an sebagai puisi gelap. Afrizal Malna adalah salah satu penyair yang menulis puisi “gelap” kala itu. Menurut Sutardji, (lewat Sarjono, 2001:102), gelapnya puisi 80-90an memiliki pengertian mendua, yakni (1) persoalan komunikasi puisi (2) persoalan gagalnya pengucapan puitik. Sementara itu, Abdul Wachid B.S. (2005:50) dan Korrie Layun Rampan (2000:xxxiii) memandangnya lain. Fenomena puisi gelap dan gelapnya puisi dipahami sebagai ‘taktik’ untuk tetap berpuisi dalam situasi dan kondisi kehidupan bernegara yang represif. Berangkat dari realitas sosial yang dipahami oleh penyair sebagai peristiwa individu di satu sisi dan sebagai peristiwa sosial di sisi lain, puisi gelap pada waktu itu tetap menyampaikan ironi dan kritik sosial sebagai tugas sastra.
Puisi prismatis sudah menggambarkan kemampuan penyair majas, diksi, dan sarana puitik yang lain, sehingga puisi bisa dikatakan sudah ‘menjadi’. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap (Waluyo, 1995:140). Puisi karya para penyair besar adalah puisi berjenis ini. Penyair besar adalah orang yang telah melewati proses kreatif yang matang sehingga mereka telah menemukan dirinya dan menemukan bentuk bagi puisinya.

7.Puisi Parnasian dan Puisi Inspiratif
Puisi parnasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirsi karena adanya mood dalam jiwa penyair (Waluyo, 1995:140). Puisi-puisi ini biasanya ditulis oleh ilmuwan yang kebetulan mempunyai kemampuan menulis puisi. Walaupun demikian, puisi parnasian tetap merupakan puisi, yang akan tetap diapresiasi dan diproduksi oleh masyarakat sastra Indonesia. Bahkan, Wellek dan Warren (Budianta, 1993:28) menyamakan puisi sebagai sejenis pengetahuan. Apapun pengetahuan yang akan disampaikan dan apapun latar belakang keilmuan penyair, sesuatu akan menjadi puisi jika ia diciptakan dengan segala piranti puitik yang ada.
Puisi inspiratif diciptakan berdasarkan mood atau passion penyair (Waluyo, 1995: 141). Dalam tataran ini, menurut istilah Subagyo Sastrwardoyo (dalam Eneste, 1982:22), puisi atau sajak benar-benar merupakan suara-suara dari bawah sadar. Selanjutnya, penyair menulis sajak dari “gelegak sukma yang menjelma ke indah kata”, istilah Tatengkeng dan Rustam Effendi (via Sarjono, 2001:103). Puisi pun lahir dalam keutuhannya yang paling bernas.

8.Stansa
Stansa adalah jenis puisi yang masih mengikat bentuknya dalam kaidah baris, yaitu terdiri dari delapan baris. Malam Kelabu yang ditulis W.S. Rendra adalah salah satu contoh stansa.

Malam Kelabu

Ada angin menerpa jendela
Ada langit berwarna kelabu
Hujan titik satu-satu
Menatap cakrawala malam jauh
Masih adakah kuncup-kuncup mekar
Atau semua telah layu
Kelu dalam seribu janji
Kelam dalam penantian

(Teori dan Apresiasi Puisi, hal. 141)

9.Puisi Demonstrasi dan Pamflet
Dalam mengidentifikasikan jenis puisi ini, Waluyo menyaran pada puisi-puisi yang ditulis oleh Taufiq Ismail dan mereka yang oleh H.B. Jassin disebut sebagai Angkatan ’66 (1995:141). Puisi demonstrasi merupakan pelukisan dan hasil refleksi demonstrasi para mahasiswa dan pelajar sekitar tahun 1966. Menurut Sastrowardoyo, (lewat Waluyo, 1995: 142), puisi-puisi demonstrasi 1966 bersifat kekitaan, yaitu melukiskan perasaan kelompok. Di samping itu, puisi juga merupakan endapan dari pengalaman fisik, mental, dan emosional penyair selama terlibat dalam demonstrsi tahun 1966. Gaya yang dipakai penyair adalah ironi dan paradoks.
Puisi pamflet tidak berbeda jauh dengan puisi demonstrasi. Keduanya sama-sama bernada protes dan kritik sosial. Kata-katanya selalu menunjukkan rasa tidak puas kepada keadaan (Waluyo, 1995:142). Sajak Lisong karya W.S. Rendra adalah salah satu contoh puisi pamflet. Dalam puisi pamfletnya, selain menggugat keadaan, Rendra juga mengkritik para penguasa dengan simbolisasi yang berani dan tajam.

10.Alegori
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, alegori adalah cerita yang dipakai sebagai lambang (ibarat atau kias) perikehidupan manusia yang sebenarnya untuk mendidik (terutama moral) atau menerangkan sesuatu (gagasan, cita-cita atau nilai kehidupan, seperti kebijakan, kesetiaan, dan kejujuran). Jadi, dalam hal ini, alegori adalah puisi yang memanfaatkan cerita, bisa dongeng atau hikayat, sebagai sarana penyair untuk mengungkapkan pemikiran-pemikirannya. Salah satu puisi yang bisa dijadikan contoh alegori adalah Ken Arok karya Omi Intan Naomi berikut ini.





Ken Arok

saat tertikam keris anusapati
berkata ia, revolusi takkan mati
akan tumbuh bagai duit di jalan tol
ken arok-ken arok baru yang bahkan
lebih dahsyat mengukir dalam-dalam namanya di peradaban
ia akan bunuh setiap tunggul ametung
dan akan seret setiap ken dedes ke ranjang
meraup negeri dan isinya habis-habis
lalu mulai bermimpi tentang
kerajaan miliknya
ia kagumi diri sendiri betapa kuatnya tangan-tangannya
yang telah mencekik kediri
menjual kelahirannya dan meninggikan singasari
dan anak-anak haram yang akan mendepani pasukan
menyeru perang dan lapar wewenang
akan mengawini kegelapan, dan
dalam kuasanya ia tertikam.

(Apresiasi Puisi, hal. 178)

Selain jenis-jenis puisi yang telah dipaparkan, masih ada jenis puisi lain yang juga pernah dan masih menjadi bahan pembicaraan masyarakat puisi Indonesia. Jenis-jenis puisi itu adalah sebagai berikut ini
1.Puisi Mbeling
Puisi mbeling pertama kali populer di Indonesia pada tahun 1970-an. “Puisi mbeling” adalah nama yang diberikan oleh pengasuh rubrik puisi dalam majalah Aktuil untuk sajak-sajak yang dimuat dalam majalah itu (Soedjarwo, 2001:1). Hal yang mendorong lahirnya puisi mbeling antara lain ialah tidak imbangnya antara hasrat dan kreativitas anak-anak muda dalam menulis puisi dengan majalah kesusastraan yang tersedia. Puisi mbeling kala itu juga sering disebut dengan puisi pop, puisi lugu, atau puisi awam.
Tema-tema yang digarap oleh puisi mbeling adalah kelakar, ejekan, kritik, dan main-main (Soedjarwo, 2001:2). Yang dipentingkan, sekaligus menjadi tujuan, penulisan puisi mbeling adalah kesan sesaat pada waktu membaca sajak tersebut. Jika pembaca tersenyum, tertawa lepas, manggut-manggut, atau sedikit terkejut membaca pernyatan-pernyataan yang nakal dan berani, itu sudah cukup (Soedjarwo, 2001:3). Berikut adalah beberapa contoh puisi mbeling yang ditulis oleh Yudhistira Ardi Noegraha (Kesaksian di Hari Natal), Nhur Effendi Ardhianto (Pesan Pelacur pada Langganannya), dan Remy Silado (Buat Iin Suwardjo sebelum Mandi).
KESAKSIAN DI HARI NATAL

Ketika pipi kananku ditampar
plak!
kuturuti sabdamu, ya bapak
kuberikan pipi kiriku
dan
plak!
duh, larane.

(Puisi Mbeling: Kitsch dan Sastra Sepintas, hal. 33)


PESAN PELACUR PADA LANGGANANNYA

mas
kapan rene maneh

(Puisi Mbeling: Kitsch dan Sastra Sepintas, hal. 35)


BUAT IIN SUWARDJO SEBELUM MANDI

ceweku wangi baunya
wangi bau ceweku
wangi ceweku
ceweku
cewe
cewecewecewecewecewe
ce
we
ce
we
c
w
c
w
w.c.
w.c bau c.w
c.w bau w.c
ceweku bau w.c.

(Puisi Mbeling: Kitsch dan Sastra Sepintas, hal. 37)

2.Puisi Imajis
Puisi imajis mengandung makna bahwa puisi itu sarat dengan imaji (visual, auditif, dan taktil) atau mendayagunakan imaji sebagai kekuatan literernya. Imaji bisa dimanfaatkan sebagai rasa (kesatuan makna kata), metafora (perbandingan makna kata), maupun sebagai muatan utama sebuah puisi (Banua, 2004). Selanjutnya ditambahkan oleh Banua, agar imajinasi bisa maksimal, diperlukan keberanian membangun dimensi makna lewat perumpamaan yang tidak lazim, memperlawankan, atau mempersandingkan dengan kata atau imaji lain yang luas dan kreatif. Menurut analisis Banua (2004) dan Abdul Wachid B.S. (2005:23), puisi-puisi yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono adalah salah satu contoh puisi imajis. Berikut adalah salah satu contoh puisinya.
Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik hujannya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Apresiasi Puisi, hal.117)

Pembedaan puisi ke dalam jenis-jenis puisi seperti yang telah dipaparkan, tidaklah bermaksud untuk memisah-misahkan puisi menjadi terkotak-kotakkan. Karena, pada hakikatnya, semua puisi adalah sama, yaitu menyampaikan sesuatu secara tidak langsung. Semua puisi adalah ungkapan perasaan dan pemikiran penyairnya yang ingin dikomunikasikan kepada publik pembaca. Yang ingin dikomunikasikan itu tidak lain adalah manusia, hidup, kemanusiaan, dan kehidupan. “Lantaran puisi ditulis sebab keterlibatannya dalam kehidupan, karenanya puisi adalah kehidupan itu sendiri, yang di dalamnya ada tanda-tanda kehidupan” (Wachid, B.S. 2005:23)

B.3. Puisi sebagai Produk Kreatif
Penyair adalah orang yang kreatif. Ia merepresentasikan hidup, kehidupan, manusia, serta kemanusiaan dalam interpretasinya sebagai makhluk yang berpikir. Mencipta sajak juga merupakan kerja yang kreatif. Kerja yang melibatkan seluruh indera manusia, bahkan lebih dari itu. Dari pribadi yang kreatif dan proses yang kreatif itulah, maka puisi lahir sebagai produk kreativitas. Setelah lahir, puisi mencari kehidupannya sendiri di masyarakat. Puisi menghidupi masyarakat dan sebaliknya masyarakat juga menghidupi puisi.
Sebagai poduk kreatif, hendaknya puisi menawarkan hal-hal yang baru, seperti keindahan bahasa, keindahan suasana, muatan, dan makna (Banua, 2004). Kebaruan adalah inti dari kreativitas. Sesuatu yang baru itu bisa saja merupakan kombinasi dari usaha perbandingan, penambahan, pengurangan, atau perlawanan berbagai hal yang sudah ada sebelumnya. Hal ini sangat berbeda dengan tiruan. Tiruan hanya mengulang tanpa melihat adanya kesempatan untuk menjadi berbeda. Puisi pun demikian. Tak ada satu pun unsur-unsur di dalamnya yang bisa dibilang baru, karena bahasa, kata-kata, bunyi, setting, tema, perasaan, nada, dan amanat adalah buatan manusia. Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri yang pernah disebut sebagai sastrawan yang begitu orisinil, yang tidak setiap seperempat abad lahir pun, pada dasarnya mencipta puisi dari sesuatu yang telah ada sebelumnya. Namun, yang membedakan, mereka bukanlah epigon, sehingga ada hal-hal baru yang berani ditawarkan pada perpuisian Indonesia.

Macam- macam Unsur-unsur Puisi

PUISI
B.1. Unsur-unsur Puisi
Pengertian puisi sampai saat ini masih diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Tidak konsistennya pengertian puisi lebih disebabkan oleh perkembangan puisi yang semakin hari semakin beragam dan mengakibatkan lahirnya jenis-jenis puisi baru. Sehingga, sulit menyimpulkan apa pengertian puisi yang bisa dikenakan pada berbagai jenis puisi pada berbagai zaman.
Berikut ini beberapa definisi atau pengertian puisi yang dikemukakan oleh ahli-ahli sastra.
1.Riffaterre
A poem says one thing and means another (lewat Sarjono, 2001:124)
2.Herbert Spencer
Puisi merupakan bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan (via Waluya 1995:23).
3.Herman J. Waluya
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya (1995:25).
4.Sapardi Djoko Damono
Puisi adalah sebentuk cara untuk mengungkapkan sesuatu yang banyak dengan cara yang paling sedikit (via Ebo, 2003:69).
Berdasarkan definisi-definisi puisi di atas, dapat ditarik benang merah tentang pengertian puisi, yaitu bentuk karya sastra yang bermuatan banyak dengan wujud bahasa yang dipadatkan.
Sebuah puisi terbangun dari dua hal, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik berkaitan dengan diksi (diction), kata kongkret (the concrete word), gaya bahasa (figurative language), dan bunyi yang menghasilkan rima dan ritma (rhyme and rhytm). Struktur batin meliputi perasaan (feeling), tema (sense), nada (tone), dan amanat (intention) (Richards lewat Waluya, 1995:24).
Struktur fisik dan struktur batin dipadu oleh penyair untuk mencapai nilai estetis dalam puisinya. Memang, ada juga penyair yang hanya mengolah struktur fisik atau stuktur batinnya saja sehingga orang sering menyebut sebuah puisi dengan komentar “bahasanya bagus” atau “maknanya bagus”. Lebih dari itu semua, setiap penyair selalu berusaha menulis puisi yang mencapai apa yang disebut oleh Horace: dulce et utile. Hendaknya, sebuah puisi tidak saja indah, tapi juga harus bermanfaat. Dan sebaliknya, tidak hanya bermanfaat, tapi juga harus indah.
Dalam sebuah wawancara, Sapardi Djoko Damono (lewat Ebo, 2003:69) mengungkapkan bahwa dalam sebuah puisi, setiap kata adalah sesuatu yang bermakna. Bagi Chairil Anwar, kata-kata adalah agung, angker, yang bisa memancarkan sinar kharismatik. Lain halnya menurut Sutardji. Kata-kata adalah kata-kata itu sendiri, sehingga ia harus dibebaskan dari beban makna maupun metafora. Bagi Afrizal Malna, kata-kata adalah bahasa sehari-hari agar rakyat jelata bisa selamat dari pemberangusan (Rampan, 2000:xxxviii). Jadi, memang tidak ada kata-kata yang mubadzir yang ditulis oleh penyairnya. Setiap kata mengandung berbagai makna sehingga mampu mewakili berbaris-baris kalimat yang hendak diungkapkan penulisnya. Hal ini pulalah yang membuat penafsiran terhadap sebuah puisi menjadi bermacam-macam. Akan tetapi, pada dasarnya karya sastra termasuk puisi memang multiinterpretable.

Artikel makalah kata baku dan tidak

Ada 8 penyebab ketidakbakuan kalimat dalam Bahasa Indonesia
1.Pelesapan imbuhan.
2.Pemborosan penggunaan kata.
3.Ketidaktepatan pemilihan kata.
4.Penggunaan konjungsi ganda.
5.Kerancuan bentuk.
6.Kesalahan ejaan.
7.Pelesapan salah satu fungsi kalimat.
8.Kesalahan struktur kalimat.




1. PELESAPAN IMBUHAN
(prefiks dan sufiks)
Polisi terus usut kematian Munir.
Presiden resmikan 8 pabrik gula.

Polisi terus mengusut kematian Munir.
Presiden meresmikan delapan pabrik gula.
Engkau harus hati-hati jika bertemu dengan dia.
Saya ingin langganan majalah itu.
Dua orang pemulung hukum dua tahun.

Engkau harus berhati-hati jika bertemu dengan dia.
Saya ingin berlangganan majalah itu.
Dua orang pemulung dihukum dua tahun.
Kita menanti hubungan dengan Washington.
Yang paling saya suka ialah berlari.

Kita menantikan hubungan dengan Washington.
Yang paling saya sukai ialah berlari.



2. PEMBOROSAN PENGGUNAAN KATA
Kemarin dia bertanding di Beijing di mana ia kalah angka.
Tempat di mana ditemukannya benda itu telah dicatat.

Kemarin, dia bertanding di Beijing dan kalah.
Tempat ditemukannya benda itu telah dicatat.
Tujuan daripada pertemuan itu adalah pembuatan kesepakatan.
Semua peserta daripada pertemuan itu sudah hadir.

Tujuan pertemuan itu adalah pembuatan kesepakatan.
Semua peserta pertemuan itu sudah hadir.

Di dalam rapat kemarin memutuskan besarnya sumbangan pendidikan.
Dalam masyarakat Jawa pun mengenal tradisi semacam itu.

Rapat kemarin memutuskan besarnya sumbangan pendidikan.
Masyarakat Jawa pun mengenal tradisi semacam itu.
Kepada Ibu Bupati dimohon berkenan menyerahkan hadiah.
Kepada hadirin dimohon berdiri.

Ibu Bupati dimohon berkenan menyerahkan hadiah.
Hadirin dimohon berdiri.

Dari hasil otopsi menunjukkan bahwa korban meninggal secara tidak wajar.
Hasil otopsi menunjukkan bahwa korban meninggal secara tidak wajar.

Maka dengan ini kami haturkan data seorang ibu dari Kelurahan Panjer.
Maka kami mohon dengan hormat sudilah kiranya Saudara memeriksa kesehatannya.
Dengan ini kami sampaikan data seorang ibu dari Kelurahan Panjer.
Dengan hormat kami mohon Saudara sudi memeriksa kesehatannya.


3. KETIDAKTEPATAN PEMILIHAN KATA
a.Penggunaan Kata Bahasa Jawa
b.Penggunaan Kata yang Termasuk Ragam Tidak Baku
c.Kesalahan Pembentukan Kata
d.Ketidaktepatan Penggunaan Kata ‘di mana’
e.Ketidaktepatan Penggunaan Imbuhan meN-i
f.Ketidaktepatan Penggunaan Bentuk -nya
g.Ketidaktepatan Penggunaan Kata-kata Tertentu
h.Di muara sungai itulah terdapat sebuah keraton lelembut
i.Ia sedang membikin rak buku.
j.Buku itu diberi ke saya.
k.Kantor di mana ia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
l.Presiden menghadiahi bintang jasa kepadanya
m.Atas bantuannya kami ucapkan terima kasih.
n.Untuk menyingkat waktu, acara segera dimulai.
o.Di muara sungai itulah terdapat sebuah keraton roh halus.
p.Ia sedang membuat rak buku.
q.Buku itu diberikan kepada saya.
r.Kantor tempat ia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
s.Presiden menghadiahkan bintang jasa kepadanya
t.Atas bantuan Saudara, kami ucapkan terima kasih.
u.Untuk mengefektifkan waktu, acara segera dimulai.

4. PENGGUNAAN KONJUNSI GANDA
a.karena, maka
b.Meskipun, tetapi
c.Walaupun, namun
d.Setelah, maka
e.Meskipun, namun
Karena nilainya kurang dari batas minimal, maka ia tak dapat diterima sebagai siswa.
Karena sakit, maka ia tidak masuk sekolah.

Karena nilainya kurang dari batas minimal, ia tidak dapat diterima sebagai siswa.
Karena sakit, ia tidak masuk sekolah.

Meskipun kita tidak berperang, tetapi kita harus waspada.
Meskipun turun hujan, tetapi ia pergi juga ke sekolah.

Meskipun tidak berperang, kita harus waspada.
Meskipun turun hujan, ia pergi juga ke sekolah.

Walaupun keringat membasahi seluruh badan, namun ia tetap bekerja.
Walaupun mereka maju bersama-sama, namun mereka belum dapat mengalahkannya.

Walaupun keringat membasahi seluruh badan, ia tetap bekerja.
Walaupun maju bersama-sama, mereka belum dapat mengalahkannya.

Setelah berhari-hari berjalan maka sampailah beliau di pinggiran hutan Merapi.
Setelah segala keperluan Sultan Agung selesai maka kembalilah beliau ke Mataram.

Setelah berhari-hari berjalan, sampailah beliau di pinggiran hutan Merapi.
Setelah segala keperluan Sultan Agung selesai, kembalilah beliau ke Mataram.

Meskipun bentuknya lain-lain, namun hakikatnya karikatur dapat disebut humor.
Meskipun negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945, namun masih banyak warganya yang belum berpendidikan.

Meskipun bentuknya lain-lain, hakikatnya karikatur dapat disebut humor.
Negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945 tetapi masih banyak warganya yang belum berpendidikan.


5. KERANCUAN BENTUK
a.Rancu dalam Hal Bentuk Kata
Hal itu belum dipelajarkan kepada kami.
Hotel itu dipertinggikan.
Hal itu belum diajarkan kepada kami.
Hotel itu dipertinggi.

b. Rancu dalam Hal Kelompok Kata
Mereka saling pandang-memandang.
Dia dilarang tidak boleh merokok.
Mereka saling memandang.
Dia dilarang merokok.


6. KESALAHAN EJAAN
a.PENGGUNAAN TANDA KOMA YANG SALAH
Ayah mengatakan, bahwa adik sakit.
Saya tidak datang, jika turun hujan.
b. PELESAPAN TANDA KOMA
Jadi definisi demokrasi adalah sebagai berikut.
Di samping itu kita tidak beruntung.
c. KESALAHAN PENULISAN SAPAAN
Siapa nama saudara?
Silakan makan, dik!
- Ayah mengatakan bahwa adik sakit.
Saya tidak datang jika turun hujan.

Jadi, definisi demokrasi adalah sebagai berikut.
Di samping itu, kita tidak beruntung.

Siapa nama Saudara?
Silakan makan, Dik!


7. PELESAPAN SALAH SATU FUNGSI KALIMAT
a.Pelesapan subjek pada induk kalimat.
b.Pelesapan subjek anak kalimat.
c.Pelesapan predikat.
Ketika diangkat menjadi ketua organisasi, tidak memperlihatkan kelebihannya.
Ketika diangkat menjadi ketua organisasi, dia tidak memperlihatkan kelebihannya.
Jika Anda tidak piket, akan dikenakan denda.
Jika tidak piket, Anda akan dikenakan denda.

Sebelum dibicarakan dengan pimpinan, bagian personalia sudah memasalahkan masalah itu.
Sebelum pimpinan membicarakan masalah itu, bagian personalia sudah memasalahkannya.

Ia sedang ke luar kota.
Ia sedang pergi ke luar kota.


8. KESALAHAN STRUKTUR KALIMAT
Surat anda saya sudah baca.
Dia punya HP sudah dijual.
Kalimat itu pembaca tidak tahu artinya.

Surat Anda sudah saya baca.
HP-nya sudah dijual.
Pembaca tidak dapat mengetahui arti kalimat itu.

Artikel makalah kata baku dan tidak

Ada 8 penyebab ketidakbakuan kalimat dalam Bahasa Indonesia
1.Pelesapan imbuhan.
2.Pemborosan penggunaan kata.
3.Ketidaktepatan pemilihan kata.
4.Penggunaan konjungsi ganda.
5.Kerancuan bentuk.
6.Kesalahan ejaan.
7.Pelesapan salah satu fungsi kalimat.
8.Kesalahan struktur kalimat.




1. PELESAPAN IMBUHAN
(prefiks dan sufiks)
Polisi terus usut kematian Munir.
Presiden resmikan 8 pabrik gula.

Polisi terus mengusut kematian Munir.
Presiden meresmikan delapan pabrik gula.
Engkau harus hati-hati jika bertemu dengan dia.
Saya ingin langganan majalah itu.
Dua orang pemulung hukum dua tahun.

Engkau harus berhati-hati jika bertemu dengan dia.
Saya ingin berlangganan majalah itu.
Dua orang pemulung dihukum dua tahun.
Kita menanti hubungan dengan Washington.
Yang paling saya suka ialah berlari.

Kita menantikan hubungan dengan Washington.
Yang paling saya sukai ialah berlari.



2. PEMBOROSAN PENGGUNAAN KATA
Kemarin dia bertanding di Beijing di mana ia kalah angka.
Tempat di mana ditemukannya benda itu telah dicatat.

Kemarin, dia bertanding di Beijing dan kalah.
Tempat ditemukannya benda itu telah dicatat.
Tujuan daripada pertemuan itu adalah pembuatan kesepakatan.
Semua peserta daripada pertemuan itu sudah hadir.

Tujuan pertemuan itu adalah pembuatan kesepakatan.
Semua peserta pertemuan itu sudah hadir.

Di dalam rapat kemarin memutuskan besarnya sumbangan pendidikan.
Dalam masyarakat Jawa pun mengenal tradisi semacam itu.

Rapat kemarin memutuskan besarnya sumbangan pendidikan.
Masyarakat Jawa pun mengenal tradisi semacam itu.
Kepada Ibu Bupati dimohon berkenan menyerahkan hadiah.
Kepada hadirin dimohon berdiri.

Ibu Bupati dimohon berkenan menyerahkan hadiah.
Hadirin dimohon berdiri.

Dari hasil otopsi menunjukkan bahwa korban meninggal secara tidak wajar.
Hasil otopsi menunjukkan bahwa korban meninggal secara tidak wajar.

Maka dengan ini kami haturkan data seorang ibu dari Kelurahan Panjer.
Maka kami mohon dengan hormat sudilah kiranya Saudara memeriksa kesehatannya.
Dengan ini kami sampaikan data seorang ibu dari Kelurahan Panjer.
Dengan hormat kami mohon Saudara sudi memeriksa kesehatannya.


3. KETIDAKTEPATAN PEMILIHAN KATA
a.Penggunaan Kata Bahasa Jawa
b.Penggunaan Kata yang Termasuk Ragam Tidak Baku
c.Kesalahan Pembentukan Kata
d.Ketidaktepatan Penggunaan Kata ‘di mana’
e.Ketidaktepatan Penggunaan Imbuhan meN-i
f.Ketidaktepatan Penggunaan Bentuk -nya
g.Ketidaktepatan Penggunaan Kata-kata Tertentu
h.Di muara sungai itulah terdapat sebuah keraton lelembut
i.Ia sedang membikin rak buku.
j.Buku itu diberi ke saya.
k.Kantor di mana ia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
l.Presiden menghadiahi bintang jasa kepadanya
m.Atas bantuannya kami ucapkan terima kasih.
n.Untuk menyingkat waktu, acara segera dimulai.
o.Di muara sungai itulah terdapat sebuah keraton roh halus.
p.Ia sedang membuat rak buku.
q.Buku itu diberikan kepada saya.
r.Kantor tempat ia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
s.Presiden menghadiahkan bintang jasa kepadanya
t.Atas bantuan Saudara, kami ucapkan terima kasih.
u.Untuk mengefektifkan waktu, acara segera dimulai.

4. PENGGUNAAN KONJUNSI GANDA
a.karena, maka
b.Meskipun, tetapi
c.Walaupun, namun
d.Setelah, maka
e.Meskipun, namun
Karena nilainya kurang dari batas minimal, maka ia tak dapat diterima sebagai siswa.
Karena sakit, maka ia tidak masuk sekolah.

Karena nilainya kurang dari batas minimal, ia tidak dapat diterima sebagai siswa.
Karena sakit, ia tidak masuk sekolah.

Meskipun kita tidak berperang, tetapi kita harus waspada.
Meskipun turun hujan, tetapi ia pergi juga ke sekolah.

Meskipun tidak berperang, kita harus waspada.
Meskipun turun hujan, ia pergi juga ke sekolah.

Walaupun keringat membasahi seluruh badan, namun ia tetap bekerja.
Walaupun mereka maju bersama-sama, namun mereka belum dapat mengalahkannya.

Walaupun keringat membasahi seluruh badan, ia tetap bekerja.
Walaupun maju bersama-sama, mereka belum dapat mengalahkannya.

Setelah berhari-hari berjalan maka sampailah beliau di pinggiran hutan Merapi.
Setelah segala keperluan Sultan Agung selesai maka kembalilah beliau ke Mataram.

Setelah berhari-hari berjalan, sampailah beliau di pinggiran hutan Merapi.
Setelah segala keperluan Sultan Agung selesai, kembalilah beliau ke Mataram.

Meskipun bentuknya lain-lain, namun hakikatnya karikatur dapat disebut humor.
Meskipun negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945, namun masih banyak warganya yang belum berpendidikan.

Meskipun bentuknya lain-lain, hakikatnya karikatur dapat disebut humor.
Negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945 tetapi masih banyak warganya yang belum berpendidikan.


5. KERANCUAN BENTUK
a.Rancu dalam Hal Bentuk Kata
Hal itu belum dipelajarkan kepada kami.
Hotel itu dipertinggikan.
Hal itu belum diajarkan kepada kami.
Hotel itu dipertinggi.

b. Rancu dalam Hal Kelompok Kata
Mereka saling pandang-memandang.
Dia dilarang tidak boleh merokok.
Mereka saling memandang.
Dia dilarang merokok.


6. KESALAHAN EJAAN
a.PENGGUNAAN TANDA KOMA YANG SALAH
Ayah mengatakan, bahwa adik sakit.
Saya tidak datang, jika turun hujan.
b. PELESAPAN TANDA KOMA
Jadi definisi demokrasi adalah sebagai berikut.
Di samping itu kita tidak beruntung.
c. KESALAHAN PENULISAN SAPAAN
Siapa nama saudara?
Silakan makan, dik!
- Ayah mengatakan bahwa adik sakit.
Saya tidak datang jika turun hujan.

Jadi, definisi demokrasi adalah sebagai berikut.
Di samping itu, kita tidak beruntung.

Siapa nama Saudara?
Silakan makan, Dik!


7. PELESAPAN SALAH SATU FUNGSI KALIMAT
a.Pelesapan subjek pada induk kalimat.
b.Pelesapan subjek anak kalimat.
c.Pelesapan predikat.
Ketika diangkat menjadi ketua organisasi, tidak memperlihatkan kelebihannya.
Ketika diangkat menjadi ketua organisasi, dia tidak memperlihatkan kelebihannya.
Jika Anda tidak piket, akan dikenakan denda.
Jika tidak piket, Anda akan dikenakan denda.

Sebelum dibicarakan dengan pimpinan, bagian personalia sudah memasalahkan masalah itu.
Sebelum pimpinan membicarakan masalah itu, bagian personalia sudah memasalahkannya.

Ia sedang ke luar kota.
Ia sedang pergi ke luar kota.


8. KESALAHAN STRUKTUR KALIMAT
Surat anda saya sudah baca.
Dia punya HP sudah dijual.
Kalimat itu pembaca tidak tahu artinya.

Surat Anda sudah saya baca.
HP-nya sudah dijual.
Pembaca tidak dapat mengetahui arti kalimat itu.

Sejarah Hikayat Burung Cenderawasih

Sahibul hikayat telah diriwayatkan dalam Kitab Tajul Muluk, mengisahkan seekor burung yang bergelar burung cenderawasih. Adapun asal usulnya bermula dari kayangan. Menurut kebanyakan orang lama yang arif mengatakan ianya berasal dari surga dan selalu berdamping dengan para wali. Memiliki kepala seperti kuning keemasan. Dengan empat sayap yang tiada taranya. Akan kelihatan sangat jelas sekiranya bersayap penuh adanya. Sesuatu yang sangat nyata perbedaannya adalah dua antena atau ekor ‘areil‘ yang panjang di ekor belakang. Barangsiapa yang melihatnya pastilah terpegun dan takjub akan keindahan dan kepelikan burung cenderawasih.

Amatlah jarang sekali orang memiliki burung cenderawasih. Ini kerana burung ini bukanlah berasal dari bumi ini. Umum mengetahui bahawa burung Cenderawasih ini hanya dimiliki oleh kaum kerabat istana saja. Hatta mengikut sejarah, kebanyakan kerabat-kerabat istana Melayu mempunyai burung cenderawasih. Mayoritas para peniaga yang ditemui mengatakan ia membawa tuah yang hebat.

Syahdan dinyatakan lagi dalam beberapa kitab Melayu lama, sekiranya burung cenderawasih turun ke bumi nescaya akan berakhirlah hayatnya. Dalam kata lain burung cenderawasih akan mati sekiranya menjejak kaki ke bumi. Namun yang penik lagi ajaibnya, burung cenderawasih ini tidak lenyap seperti bangkai binatang yang lain. Ini kerana ia dikatakan hanya makan embun surga sebagai makanannya. Malahan ia mengeluarkan bau atau wangian yang sukar untuk diperkatakan. Burung cenderawasih mati dalam berbagai keadaan. Ada yang mati dalam keadaan terbang, ada yang mati dalam keadaan istirahat dan ada yang mati dalam keadaan tidur.

Walau bagaimanapun, Melayu Antique telah menjalankan kajian secara rapi untuk menerima hakikat sebenar mengenai Burung cenderawasih ini. Mengikut kajian ilmu pengetahuan yang dijalankan, burung ini lebih terkenal di kalangan penduduk nusantara dengan panggilan Burung Cenderawasih. Bagi kalangan masyarakat China pula, burung ini dipanggil sebagai Burung Phoenix yang banyak dikaitkan dengan kalangan kerabat istana Maharaja China. Bagi kalangan penduduk Eropah, burung ini lebih terkenal dengan panggilan ‘Bird of Paradise‘.

Secara faktanya, asal usul burung ini gagal ditemui atau didapat hingga sekarang. Tiada bukti yang menunjukkan ianya berasal dari alam nyata ini. Namun satu lagi fakta yang perlu diterima, burung cenderawasih turun ke bumi hanya di Irian Jaya

(Papua sekarang), Indonesia saja. Namun satu kebenaran burung ini hanya turun seekor saja dalam waktu tujuh tahun. Dan ia turun untuk mati. Sesiapa yang menjumpainya adalah satu tuah. Oleh itu, kebanyakan burung cenderawasih yang anda saksikan mungkin berumur lebih dari 10 tahun, 100 tahun atau sebagainya. Kebanyakkannya sudah beberapa generasi yang mewarisi burung ini.

Telah dinyatakan dalam kitab Tajul Muluk bahawa burung cenderawasih mempunyai berlbagai kelebihan. Seluruh badannya daripada dalam isi perut sehinggalah bulunya mempunyai khasiat yang misteri. Kebanyakannya digunakan untuk perobatan. Namun ramai yang memburunya kerana ‘tuahnya’. Burung cenderawasih digunakan sebagai ‘pelaris’. Baik untuk pelaris diri atau perniagaan. Sekiranya seseorang memiliki bulu burung cenderawasih saja pun sudah cukup untuk dijadikan sebagai pelaris. Mengikut ramai orang yang ditemui memakainya sebagai pelaris menyatakan, bulu burung cenderawasih ini merupakan pelaris yang paling besar. Hanya orang yang memilikinya yang tahu akan kelebihannya ini. Namun yang pasti burung cenderawasih bukannya calang-calang burung. Penuh dengan keunikan, misteri, ajaib, tuah.


Monadenium

Monadenium: this plant belongs to the Euphorbiaceae Family. Tuberculate stems 3 cm in diameter and up to 40 cm long, green. Native from Kenya.

Monadenium Plant Care: location sunny and warm, do not water too much, use special cacti soil, propagate by cuttings.

Nolina Recurvata: Native of Mexico. The huge caudex on this plant can grow up to 1 meter in size. The green leaves can also grow 1 meter in length. This is a wonderful plant for a container or in-ground planting. Has white flowers. This plant is also called the beucarnea recurvata, and, commonly, as the elephants foot.

Nolina Plant Care: easy care, sunny and warm location, let dry between watering.

PACHIPODIUMS
Pachypodium Geayi: This species is native of Southern Madagascar. The deciduous leaves are very long, narrow and green with a light gray felt covering, most notably on the undersides. The leaves have a much lighter middle vein that has a rose tint to it and are more upright than lamerii. The trunk is smooth grayish silver and may reach 30 feet in time. Spines are in clusters of three and are sharp and strong. The flowers are white and relatively small with an exposed anther cone in the center. Flowers will set in about ten years in good conditions.
Pachypodium Lamereii: This species are from Southern Madagascar. Also known as Madagascar palms. The deciduous leaves are long, not as narrow a geayi and darker green with a bit more of glossy look to them. The leaves have a lighter middle vein that has less of a downward curvature in the length than geayi. The trunk is smooth grayish silver. Spines are in clusters of three and are sharp and strong. The flowers are white with yellow in the center.
Pachypodium Lamerii 'Curlycrest' (rosulatum gracilius): These types of pachypodiums are variations and not species of themselves. The lamerii is the most common in cultivation. The rosulatum gracilius is just as stunning and a little less common. Geayi curly crests exist but are rare. The nature of crested variations is to start growing in a fan shape and to curl into a wavy form as it matures. The leaves are generally much smaller than the type but retain the same characteristics otherwise. It is unknown whether the crested variations will produce flowers. These specimens are grafted to the trunk of a Pachypodium Geayi. This is a unique plant for collectors.
Pachypodium Lealii Saundersii Compacta: This species are native of Eastern Zimbabwe and South Africa. The deciduous leaves are light green and oblong with smooth edges. The trunk is smooth grayish silver that is considerably larger than its branches. Spines are in clusters of three where the leaves are located. This species flowers easily in cultivation in the fall in the Northern Hemisphere. The flowers are a pure white salver form slightly larger than the more common saundersii. Flowers will set in the second year in good conditions.
Pachypodium Namaquantum: This species are from South Africa. The deciduous leaves are a light green, velvet texture with wavy edges occurring only near the top of the plant and on the tips of its few branches. The trunk is similar to lamerii but has far more spines and the color is more of a brownish green. Spines are in clusters of three where the leaves were located. This species is known for its unwillingness to adapt to the seasons of the Northern hemisphere, growing in the winter and resting in the summer. The flowers are a dull yellow with a purple tint in the center. Flowering is not common but will occur infrequently. The flowers are formed in a bunch near the tops of the plant and branches.

Lithops Bromfieldi

Lithops Bromfieldi: They are called living stones, they are found in South Africa and Namibia. The inverted cone shape body of the plant consists of thick , fleshy leaves, which grow together except for a small cleft. Each year two leaves are produced at right angles to the old pair of leaves. The side part contains chlorophyll. The flat ends of the leaves are often transparent and patterned. The growth period ends when the white or yellow blossoms come out of the cleft. The color of the pattern is gray with light brown.
Lithops Dorothea: They are called living stones, they are found in South Africa and Namibia. The inverted cone shape body of the plant consists of thick , fleshy leaves, which grow together except for a small cleft. Each year two leaves are produced at right angles to the old pair of leaves. The side part contains chlorophyll. The flat ends of the leaves are often transparent and patterned. The growth period ends when the white or yellow blossoms come out of the cleft. This are beautiful plants to collect each measures 1/2-1", the color of the pattern is dark green and gray.
Lithops Fulviceps: They are called living stones, they are found in South Africa and Namibia. The inverted cone shape body of the plant consists of thick, fleshy leaves, which grow together except for a small cleft. Each year two leaves are produced at right angles to the old pair of leaves. The side part contains chlorophyll. The flat ends of the leaves are often transparent and patterned. The growth period ends when the white or yellow blossoms come out of the cleft. These are beautiful plants to collect each measures 1/2-1", the color of the pattern is light green with brown spots.
Lithops Hookeri Subfenestrata: They are called living stones, they are found in South Africa and Namibia. The inverted cone shape body of the plant consists of thick, fleshy leaves, which grow together except for a small cleft. Each year two leaves are produced at right angles to the old pair of leaves. The side part contains chlorophyll. The flat ends of the leaves are often transparent and patterned. The growth period ends when the white or yellow blossoms come out of the cleft. These are beautiful plants to collect, each measures 1/2-1", the color of the pattern is reb-brown.
Lithops Karamontana: They are called living stones, they are found in South Africa and Namibia. The inverted cone shape body of the plant consists of thick, fleshy leaves, which grow together except for a small cleft. Each year two leaves are produced at right angles to the old pair of leaves. The side part contains chlorophyll. The flat ends of the leaves are often transparent and patterned. The growth period ends when the white or yellow blossoms come out of the cleft. This are beautiful plants to collect each measures 1/2-1", the color of the pattern is gray with light brown.
Lithops Marmorata: They are called living stones, they are found in South Africa and Namibia. The inverted cone shape body of the plant consists of thick , fleshy leaves, which grow together except for a small cleft. Each year two leaves are produced at right angles to the old pair of leaves. The side part contains chlorophyll. The flat ends of the leaves are often transparent and patterned. The growth period ends when the white or yellow blossoms come out of the cleft. This are beautiful plants, each about 1-1.5 inches, with very healthy roots and growing nicely. The color of the pattern is gray with light brown.
Lithops Ochraceae Halii: They are called living stones, they are found in South Africa and Namibia. The inverted cone shape body of the plant consists of thick , fleshy leaves, which grow together except for a small cleft. Each year two leaves are produced at right angles to the old pair of leaves. The side part contains chlorophyll. The flat ends of the leaves are often transparent and patterned. The growth period ends when the white or yellow blossoms come out of the cleft. This are beautiful plants to collect each measures 1/2-1", the color of the pattern is light brown.
Lithops Pseudotruncatella: They are called living stones, they are found in South Africa and Namibia. The inverted cone shape body of the plant consists of thick , fleshy leaves, which grow together except for a small cleft. Each year two leaves are produced at right angles to the old pair of leaves. The side part contains chlorophyll. The flat ends of the leaves are often transparent and patterned. The growth period ends when the white or yellow blossoms come out of the cleft. This are beautiful plants to collect each measures 3/4-1", the color of the pattern is green-grayish.
Lithops Werneri: They are called living stones, they are found in South Africa and Namibia. The inverted cone shape body of the plant consists of thick , fleshy leaves, which grow together except for a small cleft. Each year two leaves are produced at right angles to the old pair of leaves. The side part contains chlorophyll. The flat ends of the leaves are often transparent and patterned. The growth period ends when the white or yellow blossoms come out of the cleft. These are beautiful plants to collect each measures 1/2-1", the color of the pattern is light brown.

Lithops Plant Care: they need a regular cacti soil with good drainage, they like an airy and bright location, water very carefully in spring and summer during the time of growth, when watered too much the bodies burst. From September on keep them completely dry, it is the rest period.

Huernia

Huernia: Their native habitat South Africa, Ethiopia and Arabia. The stems are light gray-green, red-spotted, and four to five angled, the edges wavy and toothed.

Huernia Plant Care: Easy, location light and sunny, in the summer protect from the full noon day sun, water only enough to keep the sprouts from shrinking.

KALANCHOES
Kalanchoe CV: this plant belongs to the crassulaceae family. This plant is an interesting cultivars, it has gray green leaves with reddish margins and horny lower surface, some people call it deer ears.
Kalanchoe Marmota: also called dinosaur eggs. It belongs to the crasuulaceae family. Stems branch from the base, the leaves are obovate aprox 4 " long they are green gray with brown spots and dentate margins, they resemble a dinosaur egg, the flowers are white.
Kalanchoe Thyrsifolia: this plants belong to the crassulaceae family. They are densely leafy stems, with beautiful wide flat leaves that have reddish margins, their blooms are yellow, also call flap jacks.

Kalanchoe Plant Care: Easy. The plants need to be were is bright, sunny, warm and airy, water well during summer, during winter keep them rather dry, not completely, the Kalanchoes are short day plants, they only bloom when they have less than 12 hours of light per day.

Lapidaria: is a monotypic genus (only one species) from the Namaqualand in South Africa where they get mostly summer rain. They are named for the Latin for "collection of stones", which is what a clump of plant looks like. It's a leaf succulent with stone shape leaves, they produce yellow flowers in the fall, after they bloom, a new pair of leaves develop, used the moisture from the older pair of leaves to grow.

Gasteria Glomerata

Gasteria Glomerata: stemless plant, offseting from the base and forming small clusters, inflorescence 20 cm long with pinkish red flowers, native from South Africa.
Gasteria Liliputana: Native from South Africa and Namibia. Belongs to the lilaceae family. Fan shape leaves in two rows, they are very small and very attractive; leaves are white speckled.

Gasteria Plant Care: very easy, needs a sunny or shady spot, water regularly in summer, in the winter keep rather dry, soil should have good drainage.

HAWORTHIAS
Haworthia Attenuata: Native of South Africa. This plant forms groups of small rosettes from longish pointy leaves with tubercles, which flow together in horizontal bands.
Haworthia Fasciata: Native of South Africa. The rosettes of this species are stem less 7 cm in diameter, numerous green leaves with white tubercles arranged in distinct transverse bands, inflorescence 40 cm tall, reddish-white flowers with brown veins.
Haworthia Reinwardii: Native from South Africa. Belongs to the liliaceae family. The rosettes are elongated up to 6 " tall and 2 " in diameter, they are green with whitish tubercles, the flowers are pinkish white with grayish brown veins. They are many species.
Haworthia Coarctata: Native of South Africa. This plant grows in rows, the rosette keeps on growing on the top, forming rows. It is also know by the name haworthia chalwinii.
Haworthia Retusa: Native from South Africa. Belongs to the liliaceae family. Rosettes are stem less can grow up to 6 " in diameter, forming clumps. The leaves are green shiny, turning to reddish -brown when in full sun, the flowers are white with green veins.
Haworthia Truncata: Native of South Africa. This is one of the species with window leaves. The leaves look as if they have been sharply cut off at the ends and they are arranged like a fan, not a rosette. The surface is warty and the blunt end is transparent.

Faucaria Japanese Hybrid

Faucaria Japanese Hybrid: This unique faucaria hybrid could be the Frankenstein of succulents. It is a genetic blend of a tuberculata and, apparently, a felini, and looks something like a fly trap -- with fuzzy tentacles, odd shaped leaves, clumping, and two different colors emerging. Whatever it is, it was the result of genetic manipulation by a Japanese plant biologist and not encountered in nature. For collectors it would be a very unique plant. It is totally unusual. Everyone who sees it is amazed.
Faucaria Tigrina: Also called Tiger jaws. This short stem , mat forming, dentate leaf edge, the rosette like, the leaves stand opposite to each other, have white patterns and stand densely together. The yellow blossoms last several days .

Faucaria Plant Care: This plants are suited for indoor cultivation should be given full light and modest amounts of water during the warmer months and considerably less water in the cool months. It is definitely tender and should not be exposed to frost.

Fenesteria: Also called baby toes, it is a native of Southern Africa. In their native habitats only the upper leaf parts protrude from the ground; in cultivation, the leaves have to jut out of the soil, otherwise they rot. It produces yellow blossoms in late summer.

Fenesteria Care: locate in a very light area, bright sun; during the growth period water enough to keep the leaves from shrinking, in winter give a rest period. Needs a cacti soil with good drainage, the plant doesn't like to be repotted.

Fockea Edulis: The fockea edulis has climbing stems with green oblong leaves. They grow from a bulb-like caudex which can grow to 30 cm in diameter. It has white flowers.

Euphorbia Horida

Euphorbia Horida: This succulent plant belongs to the euphorbiaceae family. It has a gray green stem, with wavy angels and often with white stripes. Native from South Africa.
Euphorbia Leucodendron: This succulent plant belongs to the euphorbiaceous family. They are spineless shrubs that can grow tall, they have long light green branches, few small green leaves present only at tips of growing branches. Native from East and Southern Africa.
Euphorbia Knuthii: from the euphorbiace family, native from South Africa. Tuberous plant, light green aerial branches with grey green stripes, has a caudex.
Euphorbia Mili: also called Crow of Thorns, these succulent plants belong to the euphorbiaceous family. They have many varieties with red, yellow or cream colored blossoms. They have green leaves and thorny branches. They are native from Madagascar.
Euphorbia Obesa:It is spineless, grey- green spherical plant with transverse red-borwn bands, the slow growing body becomes slightly columnar with age.
Euphorbia Suzannae: Euphoria's belong to the Euphorbacea family , spinless green stems with several ribs each bearing prominent tubercles, has a unique shape, produces yellowish flowers.
Euphorbia Tirucalli: This succulent plant belongs to the euphorbiaceous family. They are spineless shrubs that can grow tall, they have light green branches, few small green leaves present only at tips of growing branches. Native from East and Southern Africa.
Euphorbia Trigona: Also called the African milk tree, originally from Africa. Euphorbias belong to the Euphorbacea family, These are spiny shrubs or small trees that grow up to 6 feet tall. The stems are distinctively with 3 or 4 angles, some varieties have green or redish leaves.

Euphorbia Plant Care: they require warm, heated and sunny locations. Water too little rather than too much, especially in the winter. It propagates with cuttings. distinctive feature is the ability to produce a milky substance from the leaves and stem when cut open. The other distinctive characteristic is the flower structure, most produce flowers without petals, some species have female and male plants.

Echeveria Derenbergii

Echeveria Derenbergii: The echeverias are from the crassulacea family, they are found in Central, North and South America. Their decorative leaves are usually arranged in spiral rosettes, green leaves, the plants flowers freely during summer the blossoms are yellow inside and orange outside.
Echeveria Gibbiflora Arlie Wright Hybrid :The echeverias are from the crassulacea family, this plant has a beautiful mottled brown color, with occasional tints of pink towards the stem and tips of the leaves, it will develop tubers and distortions that provide outstanding character. The outermost leaves on this plant are extremely wide and may crack during shipping, handle carefully. This does not damage the plant and they would fall off seasonally, in any event.
Echeveria Gibbiflora v. Mauna Loa: The echeverias are from the crassulacea family, This plant looks like a mini-volcano, with thick rings of bright red-purple leaves. The leaves grow in spiral rosettes, with the outer leaves showing the deepest coloration.
As the grow, they will develop crests and thick protuberences, giving them a truely unique character.
Echeveria Setosa: Native from Mexico, belongs to the crassulaceae family. Stemless rosettes with numerous offsets, they are dark green with dense white hairs, flowers are red-yellow.
Echeveria Subsisilis: The echeverias are from the crassulacea family, they are found in Central, North and South America. Their decorative leaves are usually arranged in spiral rosettes, the have pinkish gray leaves.

Avonia Buderiana

Avonia Buderiana: This plant belongs to the portulacea family, they are native to South Africa. They are very little plants, white species are especially popular. This is a very unique plant a must in any collection.
Avonia Plant Care: locate in a very sunny and warm spot, water very little, rest period in the winter, use a very porous cacti soil with goods drainage.

CRASULAS
Crassula Arborescens: Belongs to the crassulaceae family. They come from Cape Province. In its native habitat this species form 12 ft tall bushes. They have gray-green , ovate, thick , fleshy leaves about 2 inches wide, usually with red margins and dotted red above. The plant is tolerant to a wide range of environments. The blossoms are very small, and stand together in umbels, they are vivid colored and often have a scent.
Crassula Argenta Habitat: Belongs to the crassulaceae family. They come from South Africa. Whit their thick, fleshy, irregular shape leaves they are also called carasula monstruosa. The blossoms are very small, and stand together in umbels, they are vivid colored and often have a scent.
Crassula Argenta Variegata: Belongs to the crassulaceae family. They come from South Africa. They have thick, fleshy, green and white leaves. The blossoms are very small, and stand together in umbels, they are vivid colored and often have a scent.
Crasula Falcata: Native from South Africa. Belongs to the crassulaceae family, also called propeller plant. This plant has gray-green leaves 10 cm long with recurved apices, the blossoms are very small and stand together in umbels, they are red vividly color and often have a scent.
Crassula Muscosa: This is a member of the crassulacea family. This plant has many slender branched stems, closely arranged in rows, it is ligth to yellowish green, it produces very samll yellowish-white flowers.
Crassula Perforata: The crassulas adore the confines of container living, they can thrive in the same pot for years, requiring little more than the basics, a good bright location and ample water during growing season. It is also called String of Buttons. It has opposite pairs of flattened, pale green leaves that are joined at ends, they produce minute yellow flowers in early spring. They make excellent hanging plants.

Aloe Arborescens Spinosissima

Aloe Arborescens Spinosissima: Native from South Africa. It grows to be a large shrub, they are rosettes on erect stems, leaves are 60 cm long and 5 cm wide, dark green with spiny margins, inflorescence 80 cm tall, flowers scarlet.
Aloe Aristata: The Aloes belong to the family Lilacea and originated in Africa and Madagascar. Most species have stem less rosettes that grow in groups. The green leaves have soft spines specially underside the margins and horny teeth, inflorescence 50 cm tall with several orange red flowers.
Aloe Brevifolia: Native from South Africa. Belongs to the liliaceae family. Rosettes densely leaved, forming large clumps,leaves are light grayish-green, with soft spines on lower surface, flowers are red.
Aloe Broomii: Native of South Africa. Solitary large rosette, leaves bright green with horny edges. Inflorescence to 1.5 mts tall and yellow flowers.
Aloe Ciliaris:Native of South Africa. Long stems with leaves on terminal portion, red flowers.
Aloe Juvena: Aloes belong to the family Lilaceae and originated in Africa, native of Kenya. Plant has stems covered with triangular leaves about 4 cm long, mid to light green and have numerous light colored spots, the edges have many teeth.
Aloe Hawarthoides: Aloes belong to the family Lilaceae and originated in Africa. The rosette is very small, sprouting, the leaves have white pustules and white dentate edges.
Aloe Marlotis: The Aloes belong to the family Lilacea and originated in Africa. Leaves are green to greyish green with brown spines on the margins and on both surfaces, grows to be a large 4 mt tall single stem plant, their flowers are bright orange.
Aloe Meyeri Doran Black: Aloes belong to the family Lilaceae and originated in Africa. Stemless rosettes, leaves are green covered with white spots, inflorescence 30 cm tall, scarlet flowers.
Aloe Nobilis: Native from South Africa. Belongs to the liliaceae family. Rosettes densely leaved, forming large clumps,leaves are bright green, with soft spines on lower surface, flowers are red.
Aloe Plicatillis: Aloes belong to the family Lilaceae and originated in Africa, Madagascar and the Mediterranean. The Aloe plicatilis is a dichotomous aloe (the leaves are organized as a fan instead of a rosette), leaves are 30 cm long and 4 cm wide, dull green, inflorescence 50 cm tall, scarlet flowers. It grows into a succulent tree and can grow up to 15 feet tall.
Aloe Vera: Also called Aloe barbadensis which is the only one recognized "Medicine Plant". The Aloes belong to the family Lilacea and originated in Africa and Madagascar. Plants with short stems, forming dense groups, green leaves up to 50 cm with or without white spots, produces yellow flowers, it is widely cultivated for its pharmaceutical properties.

Aloe Plant Care: Easy, sunny location, light shade, moderate water in summer, opinion is divided as to weather aloes should receive any water in winter, a little water will help prevent die back of the leaf tips, to much will result in loss of roots by rooting. When potting aloes the stem must not be buried. Some turn red in the bright sun and they will turn green again if they are in the shade.

ALOINOPSIS
Aloinopsis Schooneesii: This little South African Plant is a leafy succulent, each head has about 10 fleshy blue- green leaves. The plant clusters. It must be placed in a sunny position to flower , the golden yellow flowers are produced continuously throughout the summer months.

Aeonium Arboreum Purpuratrum

Aeonium Arboreum Purpuratrum: Native from the Mediterranean regions. Belongs to the crassulaceae family. Stems are erect with dense rosettes, the leaves are dark purple, and their flowers are yellow. After the blossoms fade, the branch that carries the blossoms dies.
Aeonium Schwarzkopf: It's originally from Gran Canaria. Belongs to the crassulaceae family. It is a bushy succulent that has a beautiful dark purple leaf and produces yellow flowers in the summer.

Aeonium Plant Care: Very easy, the plant likes to be in a light location in the summer in half shade and plenty of water, in winter they require bright and cool situation. If potted put the plant in a pot that is too large, rather than too small.

AGAVES
Agave Desmetiana Variegata: The rosettes of the agave plants take 7 to 20 years in habitat to flower, the time before flowering is used by the plant to store nutrients and mineral reserves which are then utilized in the formation of the flower stem, which can grow up to 10 meters high. After flowering the mother plant produces offsets and then dies. The leaves are green with yellow on the edge. The shape of the rosette is a defense mechanism, the leaves are usually hard or fairly rigid and fibrous inside and number between 20 and 200 depending on species.
Agave Filifera: Belongs to the agavaceae family. Rosettes to 65 cm in diameter with lateral shoots, shiny green leaves with white lines and filiferous margins; inflorescence to 3 mts tall, greenish yellow flowers.
Agave Queen Victoria: The rosettes of the agave plants take 7 to 20 years in habitat to flower, the time before flowering is used by the plant to store nutrients and mineral reserves which are then utilized in the formation of the flower stem, which can grow up to 4 meters high, flowers are usually red. After flowering the mother plant produces offsets and then dies. Tle leaves are green with white margins and a terminal spine 2 mm long.

Adenium Obesum

Adenium Obesum: Stem succulent originating from Africa. This plant as it grows it forms a larger caudex In its natural habitat it blooms strikingly during the dry period, the flowers are pink. It is also called the desert rose.

Adenium Plant Care: Easy, good for beginners. Likes light and full sun, ideal winter plant for indoors, it doesn't mind dry warm air. The more it is in the sun the more abundantly it blooms, if in winter it remains in a warm room it continues to grow, if the plant is on the window it should be turned regularly, otherwise it only grows in one direction. In the summer water it a lot but provide good drainage to avoid wet soil, in the winter if the plant stays were its cool water less. From March to September fertilize every 3 weeks with cactus fertilizer.

Adromiscus Crispatus: Belongs to the crassulaceae family. Native from South Africa. This succulent's plant has short branching stems; green leaves 2-4 cm long, convex on both sides and covered with soft hair, inflorescence to 2 cm long; whitish red flowers.

Adromiscus Plant Care: Easy and undemanding. They like sunny warm, light location. In the summer water abundantly, provide good drainage to avoid wet soil, in the winter hardly at all. Propagate with leaves that have fallen.

 
Autos Car New Motorcycles,New auto Pics,Yamaha mio Kawasaki Ninja Toyota Yaris Honda cbr Hummer Mobil Avanza Ghost NighterYamaha JupiterVixion MionBajaj PulsarMedical Health Community Sexy Art Man House Design Business Flower Games oto Racing Championcup